 |
|
| Iklan |
|
| |
Beli Buku via SMS atau e-mail kirim sms ke 08562878543 atau email: marketing
| |
|
|
|
|
 |
|
 |
| |
| DTK: Diantara Kesuksesan dan Kegagalan | |
| Jauh sebelum DTK, Dunia Tanpa Koma, ditayangkan, ribuan bahkan mungkin jutaan kepala menanti seperti apa kira-kira isinya. Sinetron termahal yang pernah dibuat di Indonesia ini menghadirkan sederet nama besar aktor layer lebar. Untuk aktor kawakan terpampang nama Slamet Raharjo, Didi Petet dan Adi Kurdi sedangkan untuk aktor muda tercatat Dian Sastrowardoyo, Fauzi Baadila, Tora Sudiro dan aktor/aktris papan atas lainnya
Hebatnya Dunia Advertising
Dunia periklanan, advertising, sebagai salah satu teknik marketing memang dapat membius otak yang terkena, dapat menyihir pikiran yang melihat. Hal ini sangat terlihat pada sinetron DTK. Tak pelak jutaan kepala tersihir oleh gencarnya iklan tayang dengan kalimat-kalimat yang luar biasa. Seolah ini adalah sebuah harapan baru dunia layar kaca.
Belum lagi, sebuah pernyataan dari Dian Sastrowardoyo, pemeran utama sinetron ini, dalam sebuah infotaimen; yang kurang lebih menyatakan bahwa Dian lebih membutuhkan untuk ikut sinetron ini, bukannya sinetron yang membutuhkan namanya. Orang yang mendengar pernyataan seperti ini, jelas langsung membayangkan betapa hebatnya sinetron ini.
Diterbitkannya buku dengan judul yang sama, semakin meningkatkan image DTK pada kepala setiap orang yang melihatnya, meski hanya kovernya di toko buku.
Iklan yang gencar dan menarik membuat harapan yang besar DTK akan menyuguhkan cerita yang luar biasa yang belum pernah satupun sinetron memilikinya. Ketika nanti tayang premier sudah dibayangkan tidak akan membutuhkan remote TV saat menontonnya. Cukup menonton itu saja tak perlu dipindah-pindah.
DTK (Dunia Terlalu banyak Koma)
Scene openingpun dimulai dengan penampilan Fauzi Baadila dan Donny Damara dan berharap aliran cerita yang deras dan rumit menanti setelah itu. Akan tetapi, kenyataannya bertolak belakang. Cerita justru mengalir lembek bertele-tele khas sinetron Indonesia.
Justru yang terlihat tanda koma yang terus berjatuhan tanpa ampun! Dan hingga akhir, berharap akan ada kejutan di akhir episode ini. Dan sekali lagi penonton kecewa!
Sebuah efek kejut sangat dibutuhkan di episode pertama. Banyak serial Barat memakai trik ini untuk menunjukkan kualitas cerita yang akan ditawarkan. Siapa yang tidak pusing ketika melihat serial Desperate Housewives episode pertama? Permasalahan setiap karakter di dalamnya langsung mencapai klimaks di episode itu juga dan hebatnya permasalahan itu berkaitan satu sama lain dengan cara yang tidak biasa tapi tetap natural. Sampai dikira itu bukan sebuah serial: karena semua permasalahan seolah akan dihabiskan di episode pertama. Tapi tidak, satu keajaiban hidup adalah: permasalahan tidak akan pernah habis.
Trik ini pun terlihat juga dipakai serial mandarin The Hospital: baru episode pertama rumah sakit sudah kedatangan putri presiden yang pengobatannya menjadi intrik perebutan kursi Kepala Rumah Sakit.
Dian Sastro, Tora Sudiro, Fauzi Baadila, Slamet Raharjo, dan Didi Petet: Tidak pernah terbayangkan nama-nama ini berada dalam sebuah sinetron! Dan mungkin gara-gara melihat daftar nama itu, menjadi over-estimate terhadap cerita yang akan mereka lakoni.
Dapat diakui, DTK dengan gemerlap pemeran tokohnya telah menawarkan pusat cerita yang berbeda dengan sinetron lain (tapi, itu bukan hal yang sulit semua sinetron lain punya cerita yang identik). Jika nanti ada penghargaan sinetronpun, dapat diyakini 75% lebih kategori akan disapu DTK.
Diharapkan para pemain dan kru agar tidak cepat puas yang menang bukan karena bagus, tetapi karena semua pesaing bahkan dibilang jelek saja belum bisa. Kritikan ini tentu bukan karena benci, namun dengan harapan yang besar agar DTK menjadi inspirasi bagi sinetron lain.
DTK jelas tercatat sebagai sinetron paling mahal. Semoga karya Indonesia berikutnya tidak mencoba menyaingi kegemerlapan DTK dari segi biayanya, akan tetapi dari segi skenario cerita. Jaya sinetron Indonesia!
|
|
|
 |
|
| Daftar Pelanggan |
|
| | 1. Penerbit Trubus Agriwidya
2. Hotel Athaya Kendari
3. Fak. Ked. Hewan UGM
4. Linux Learning Center (LLC)
5. Linuxinet
6. Bijak Training Service (BiTS)
7. Media Internusa
8. Himakomedia Il. Komp. UGM
9. Orax-Arix
10. NASA Komputer
| |
|
| Komentar |
|
| | Mohon maaf, untuk sementara website www.indieoffset.com belum tersedia komentar, untuk memberi pandangan tiap artikel yang ada.
sebagai gantinya silahkan kirim email ke : ahmad@indieoffset.com segala komentar. Bila engine komentar telah selesai dibuat, Insya Allah komentar yang terkirim ke email akan ditampilkan di website.
| |
|
 |
|
 |